Mengenaskan, Penduduk Miskin di Sawahlunto Bertambah 

5 hours ago 9
MENGAIS SAMPAH—Dua orang warga sedang mengais sampah di kawasan Kayu Gadang, Kota Sawahlunto yang menjadi potret kemiskinan .

SAWAHLUNTO, METRO–Penduduk miskin di Sawahlunto bertambah menjadi 2,72 persen di 2025, dari 2,33 persen di 2024. “Meski penduduk miskin di kota ini bertambah, namun secara persentase terendah di Su­matera Barat,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sawahlunto, Arieswaty, kemarin. Dikatakannya, bertambahnya penduduk miskin dipengaruhi dengan kenaikan harga yang terus menerus. Lalu, dipengaruhi laju inflasi yang ditandai dengan ke­naikan harga. Bagi warga rentan miskin sangat mu­dah kena dampak perubahan iklim ekonomi. Bahkan, mereka bisa jatuh miskin karena tak punya daya beli.

Lebihjauh  Kepala Kantor BPS Arieswaty  menjelaskan , bahwa konsentrasi pemerintah daerah dalam penguatan e­ko­nomi bukan hanya pada warga miskin tetapi juga yang rentan miskin. Bahkan, warga rentan miskin bisa jadi lebih banyak. Di 2025 ada 1.790 penduduk miskin. Di 2024 ada 1.520 penduduk miskin. “Bila  warga rentan miskin tidak diperkuat melalui sentuhan program bisa jadi akan menambah orang miskin baru. Inilah yang perlu kita antisipasi,” tegas Arieswaty.

Kata Arieswaty , BPS mengukur garis kemiskinan menggunakan konsep kemampuan meme­nuhi kebutuhan dasar. Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan di sisi ekonomi memenuhi kebutuhan dasar maka­nan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pe­ngeluaran. Penduduk yang rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan, penduduk miskin. BPS menetapkan garis kemiskinan Sawahlunto di 2025 dengan pengeluaran mi­nimum Rp545.725 per ka­pita per bulan. Terjadi per­geseran garis kemiskinan dari Rp524.196 di 2024.

Selain itu sebut Arieswaty,  pertumbuhan penduduk miskin di kota ini sangat lambat, bila di­banding dengan kota dan kabupaten di negeri ini. Pertumbuhan penduduk miskin yang cepat terjadi di kabupaten dan kota lain, akhirnya tetap memberi nilai persentase dan jumlah kecil bagi Sawahlunto. Kesenjangan penduduk miskin kota ini tidak dalam. “Bisa kita lihat di indeks kedalaman kemiskinan 2025 berada di 0,33. Lalu, ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin tidak parah. Ini juga bisa dilihat di Indeks Keparahan Kemiskinan yang berada di 0,12,” tutur Arieswaty.

Menurutnya, bertambah penduduk miskin di kota ini dipengaruhi inflasi. Penduduk yang pendapatan tidak tetap dan tidak pasti tak mampu menjangkau kenaikan harga yang terjadi dengan per kapita perbulan di bawah garis kemiskinan, akhirnya o­rang miskin bertambah.

Penduduk rentan miskin ini yang kemudian men­jadi miskin. Mereka semula tidak miskin, tetapi berada pada garis kemiskinan atau penduduk rentan miskin. Ketika situasi ekonomi tak baik-baik saja, seperti laju inflasi tinggi dan tidak terkendali membuat mereka menjadi miskin karena penda­patan tidak bertambah. “Stabilitas harga, langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjaga inflasi. Kalau pun peme­rintah daerah operasi pa­sar dan pasar murah, ha­nya akan bersifat sesaat,” ujar Arieswaty.(pin/rel)

Read Entire Article
Energi Alam | Padang | | |